Posts

Showing posts from 2015

Bajang Sasak Kudu "Belajar" Bahasa Sasak

Image
Pada era tahun 1990-an sangat gencar sekali diajarkannya penulisan aksara yang bentuk fisiknya sangat berbeda dengan huruf alfabet yang populer saat ini. Ya, kali ini saya akan menulis tentang awal ula belajar aksara sasak. Berdasarkan literatur yang saya baca aksara sasak berasal dari aksara jawa, dan tidak akan jauh dari bali. Singkat ceritanya begini, aksara jawa menyebar dan diaplikasikan di bali, dan jaman dulu salah satu kerajaan di Bali menguasai daerah lombok khususnya bagian barat dengan membawa kepercayaan, budaya dan tentunya karya tulisan. Dari situlah aksara bali digunakan juga di lombok,  “ceritanya kurang lebih seperti itu” . . . . . kalau mau lebih detail baca buku to . . . ??? Awalnya saya berfikir lafal yang sering digunakan di lombok adalah akibat dari pengaruh masyarakat yang sering merantau ke malaysia, Awak               : Nak, kemane tu? Someone        : Nak pegi beli nangke lah, sekejap aje Namun akhir-akhir ini melihat fenomena pelafalan

Berbahasa Sasak "dengan" Tourist

Image
It will be a great expirience If our beloved "Base Sasak" more popular. We can try to start our dialogue in Sasak language. It will be awesome experience to speak in Sasak.  Soemasih     :  Ampure , mamiq. Araq saq bau tiang tulung ? :  Permisi, Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu ? : Excuse me, Sir. Can I help you ?          Thomas        :  Nggih, matur tampiasih. :  Ya, Terima kasih. Anda sangat baik sekali. : Yes, thanks. It’s very kind of you. Soemasih     :  Ape   side ni baru leq deriki ? :  Apakah anda pendatang baru ? : Are you new visitor here ? Thomas        :  Nggih, tiang lekan Scotlandia. Aran tiang Thomas. :  Ya. Saya dari Scotlandia. Senang bertemu dengan anda. Nama saya Thomas. : Yes I am. I come from Scotland. I’m glad to meet you. I’m Thomas. Soemasih     :  Tiang endah semenoan juaq. Aran tiang Soemasih. Tiang asli lekan te. Wah pire kengoneq pelungguh leq deriki ?                         :  Sama-sama. Nama saya

Bahasa Sasak: Istilah Populer Aktivitas Dapur

Image
Did pelungguh know about cooking terminology in Sasaknese ??? there are many terminology that Sasaknese use to describe something refers to cooking. Here we go, . . . 1. Ngëkët-ëkët (verb) = firing initiation 2. Jumuq/Bejumuq/Jokot (verb) = additional wood for more firing 3. Bangkal (adjective) = boiling 4. Nenes (adjective) = smoother 5. Jangkëh (noun) = fireplace 6. Këtë/Kekëtë (noun) = traditional “sigon/sogon” 7. Siong/Sêong (verb) = frying without vegetable oil 8. Cobek (noun) = traditional pestle 9. Giliq (verb) = drilling 10. Ënsëng (adjective) = condition before ripe,   11. Gecok (verb) = cutting 12. Sêar (verb) = get the wood out to firing off 13. Bësoq (verb) = washing 14. Ngemi (verb) = rice cooking 15. Meriap (verb) = cooking 16. Kemêq (noun) = traditional   17. Senduk (noun) = vegetable spoon (made from Tangkêl) 18. Geseng (adjective) = burnt 19. Tunuq (verb/adjective)* = toasted 20. Kulup (verb/adjective)* = boiled 21. Tambus (verb/adjective)*

Malam Akhir Ramadhan

Image
Aku fikir aku adalah orang yang selalu menemui hal yang sama dalam tiap moment lebaran di dusun kecilku. Meski begitu, tak pernah terlintas dalam benakku istilah 'jenuh' atau 'ah ga asyik, masak lebaran nemunya hal kayak gini terus', tidak sama sekali. Sesekali suara "kenikusan" memekakkan telinga, cahaya "dilah copok" sepanjang jalan di dusun ku terus menyala hingga minyaknya habis, tidak seperti di kota dengan berbagai kelap-kelip sinar lampu, kembang api dan mercon.  Tapi kali ini aku beruntung, malam yang beda sekali, anak-anak seusiaku berkumpul di depan gerbang masjid menunggu acara lomba takbiran yang diadakan remaja masjid, tapi dengan satu syarat lomba takbiran akan dimulai bila pengumuman resmi hasil sidang isbat penetapan tanggal 1 Syawal oleh pemerintah jatuh esok hari . Sepertinya saat itu kami terlalu 'lebay', bagaimana tidak malam itu aku dan kelompok telah menyiapkan segala asesoris mulai dari jenggot dari bu

Aturan Tak Tertulis

Image
Menghabiskan masa anak-anak di dusun adalah masa dimana aturan-aturan adat dusun tak tertulis mulai dituturkan. Orang tua – orang tua yang telah lebih dahulu menerima titah sang pendahulu melakukan hal yang sama kepada kami yang kecil. Aturan yang tidak disusun dengan menghabiskan anggaran dusun, aturan yang disusun tidak dari rapat rancangan komisi tiga dewan perwakilan dusun, aturan yang disusun bukan karena hasil demonstrasi anak-anak kecil yang butuh kejelasan batas-batas permainan yang mereka nikmati, aturan yang disusun bukan untuk mendapat keuntungan ekonom i. Adalah sebuah aturan sederhana, sederhana tapi sangat mengena sesederhana permainan anak-anak dusun tidak ada sanksi tapi terhujam kuat dalam hati tidak ada sanksi tapi kami tetap patuhi tidak ada sanksi tapi kami terus taati aturan non formal, tidak untuk dipolitisasi, tidak untuk memanipulasi, tidak untuk adu argumentasi, Aturan itu kami terima dan kami taati, kami menelan mentah-m