Instagram TikTok YouTube

Murdiah Lombok — Bahasa & Aksara Sasak | Budaya dan Wisata Lombok ·

Aksara Sasak · Budaya · Kuliner · Warisan Leluhur

Iklan / Advertisement

Ternyata Suku Sasak Punya Tulisan Sendiri dan Hampir Tak Ada yang Tahu

Iklan / Advertisement


Bayangkan seseorang dari luar Lombok bertanya kepada Anda, “Seperti apa, sih, tulisan asli orang Sasak?”

Banyak dari kita akan tertegun. Kita hafal lagu daerah, tahu serunya peresean, dan fasih berbahasa Sasak setiap hari. Tapi begitu ditanya bentuk hurufnya, kebanyakan hanya bisa angkat bahu. Padahal suku Sasak punya aksaranya sendiri, lengkap, indah, dan sudah berusia ratusan tahun. Namanya Aksara Sasak. Ironisnya, hari ini ia justru nyaris tak dikenali oleh para pewarisnya sendiri.

Lewat tulisan ini, Anda akan berkenalan dengan apa itu Aksara Sasak: dari mana asalnya, seperti apa wujudnya, kenapa ia begitu penting, sampai bagaimana cara mulai mempelajarinya.

Jadi, Apa Itu Aksara Sasak?

Singkatnya, Aksara Sasak adalah sistem tulisan tradisional yang digunakan suku Sasak untuk menuliskan bahasa Sasak di Pulau Lombok. Aksara ini juga dikenal dengan nama Jejawan Sasak atau Aksara Baluq Olas.

Bentuknya berkerabat dekat dengan aksara Bali dan aksara Jawa, jadi kalau Anda pernah melihat ketiganya berdampingan dan merasa “kok mirip”, itu wajar. Selama berabad-abad, aksara inilah yang dipakai untuk menuliskan naskah-naskah penting masyarakat Sasak di atas daun lontar.

Itu definisi ringkasnya. Sekarang, mari kita bedah satu per satu.

Dari Mana Aksara Sasak Berasal?

Jejak silsilah Aksara Sasak ternyata panjang dan menjangkau jauh, bahkan sampai ke India.

Para ahli umumnya sepakat bahwa Aksara Sasak adalah turunan dari aksara Brahmi kuno asal India. Aksara ini menyebar ke Nusantara dan berkembang menjadi aksara Kawi (aksara Jawa Kuno). Dari aksara Kawi inilah kemudian lahir “saudara-saudara serumpun” yang kita kenal hari ini: aksara Jawa, aksara Bali, dan aksara Sasak.

Itulah sebabnya ketiganya berbagi pola dasar yang sama, termasuk urutan hurufnya yang dikenal lewat deretan Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Karena kedekatan geografis dan sejarah panjang antara Lombok dan Bali, Aksara Sasak punya banyak kemiripan dengan aksara Bali, meskipun tetap memiliki ciri dan gayanya sendiri.

Penasaran dengan cara belajar efektifnya? Baca: Panduan Belajar AksaraSasak

Seperti Apa Bentuknya?

Berbeda dengan huruf Latin yang kita pakai sehari-hari, Aksara Sasak bersifat silabis (berbasis suku kata). Artinya, setiap satu huruf dasar sudah otomatis membawa bunyi vokal “a”. Misalnya, huruf yang melambangkan “k” sebenarnya langsung dibaca “ka”, bukan sekadar “k”.

Lalu bagaimana cara mengubah bunyinya menjadi “ki”, “ku”, “ke”, dan seterusnya? Di sinilah ada tanda khusus yang disebut sandangan, semacam penanda vokal yang ditempelkan pada huruf dasar. Ada pula bentuk yang disebut pasangan, yaitu huruf khusus yang dipakai ketika dua konsonan bertemu tanpa vokal di antaranya.

Sekilas memang terlihat rumit. Tapi kabar baiknya, pola dasarnya sangat konsisten, sehingga bisa dipelajari bertahap. Di artikel ini kita cukup mengenali gambaran besarnya saja; cara membaca tiap huruf akan kita kupas tuntas di seri belajar.

(Bingung nyari bukunya? Lihat: Ebook belajar Aksara Sasak)

Dipakai untuk Apa, Dulu dan Sekarang?

Dahulu, Aksara Sasak adalah tulang punggung tradisi tulis masyarakat Sasak. Ia digoreskan di atas daun lontar untuk merekam beragam hal: kisah sejarah, cerita rakyat, ajaran agama dan moral, hukum adat, pengobatan tradisional, hingga ramalan.

Salah satu naskah paling terkenal adalah Babad Lombok, yang memuat kisah asal-usul dan sejarah pulau ini. Ada pula naskah sastra seperti Serat Monyeh yang sarat pesan moral dan nilai kehidupan.

Sekarang, perannya jauh menyusut. Sebagian besar Aksara Sasak kini seolah “tertidur” di dalam koleksi lontar lama yang tersimpan di rumah-rumah keluarga, museum, dan perpustakaan, dan hanya segelintir orang yang masih mampu membacanya. Meski begitu, aksara ini perlahan muncul kembali dengan wajah baru: sebagai elemen desain, hiasan, dan simbol identitas. Pergeseran inilah yang membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar.

Kenapa Aksara Sasak Penting, dan Kenapa Terancam?

Karena aksara bukan sekadar kumpulan coretan. Ia adalah identitas dan ingatan kolektif sebuah masyarakat.

Selama aksara ini masih hidup, pintu menuju kekayaan pengetahuan leluhur, yang tersimpan dalam ribuan lembar lontar, tetap terbuka. Tapi begitu tak ada lagi yang sanggup membacanya, naskah-naskah itu berubah menjadi benda bisu: wujudnya ada, tapi pesannya hilang selamanya.

Sayangnya, ancaman itu nyata. Minat generasi muda terus menurun, tergeser oleh dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing. Pelajaran muatan lokal yang dulu menjadi wadah pengenalan aksara kian berkurang di banyak sekolah. Ditambah lagi, sebagian anak muda memandang berbahasa dan beraksara daerah sebagai sesuatu yang “kuno”, stigma yang justru mempercepat kepunahannya.

Namun tidak semua kabarnya suram. Sejumlah akademisi dan komunitas mulai bergerak: ada yang mendigitalkan naskah lontar, ada pula yang mengembangkan game edukatif untuk mengajarkan aksara kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Pelestarian itu mungkin, selama ada yang mau memulai.

Bagaimana Cara Mulai Belajar Aksara Sasak?

Kabar baiknya: mempelajari Aksara Sasak tidak sesulit yang dibayangkan.

Anda tidak perlu langsung menghafal semuanya sekaligus. Titik awal yang paling masuk akal adalah mengenali 18 aksara dasar, fondasi dari seluruh sistem tulisan ini. Setelah hafal bentuk dasarnya, langkah berikutnya tinggal belajar menambahkan sandangan untuk mengubah bunyi vokal, lalu pasangan untuk merangkai kata. Semua dilakukan bertahap, satu langkah demi satu langkah.

Sebagai modal awal, Anda juga bisa memanfaatkan font Aksara Sasak dan aplikasi belajar yang kini sudah tersedia secara digital.

(Siap mulai? Lanjut ke: Tips sederhana mulai belajar Aksara)

Penutup

Aksara Sasak bukan huruf mati yang hanya pantas dikenang di balik kaca museum. Ia adalah jendela menuju identitas, sejarah, dan kearifan suku Sasak, warisan yang masih bisa kita selamatkan, selama ada yang peduli.

Dan kepedulian itu bisa dimulai dari hal kecil: mengenalnya, persis seperti yang baru saja Anda lakukan dengan membaca tulisan ini.

Sekarang, giliran Anda. Coba pelajari huruf pertamanya, bagikan artikel ini agar lebih banyak orang Lombok mengenal aksaranya sendiri, atau tuliskan nama Anda dalam Aksara Sasak dan pamerkan di kolom komentar. Satu langkah kecil hari ini bisa menjadi bagian dari upaya besar menjaga aksara ini tetap hidup.

Iklan / Advertisement
Bagikan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iklan / Advertisement
Iklan