Instagram TikTok Facebook YouTube

Murdiah Lombok ·

Aksara Sasak · Budaya · Kuliner · Wisata

Iklan / Advertisement

5 Babad Terkenal di Pulau Lombok

Iklan / Advertisement

 


Pulau Lombok, yang terletak di antara Pulau Bali dan Pulau Sumbawa, menyimpan kekayaan sastra dan sejarah yang luar biasa. Salah satu warisan paling berharga dari peradaban Suku Sasak adalah babad, naskah-naskah kuno yang ditulis menggunakan Aksara Jejawan (Sasak) dan berbahasa Kawi, yang memuat kisah asal-usul, silsilah raja-raja, perjuangan rakyat, serta nilai-nilai luhur kebudayaan Sasak.

Babad-babad ini tidak sekadar karya sastra biasa. Ia adalah memori kolektif masyarakat Sasak yang terekam di atas daun lontar, menjadi jendela untuk memahami sejarah kerajaan-kerajaan besar di Lombok, dinamika sosial-politik masa lalu, hingga sistem kepercayaan dan etika hidup orang Sasak. Berikut adalah lima babad yang paling terkenal dan paling sering dikaji oleh para peneliti maupun pemerhati budaya.

1. Babad Lombok

Babad Lombok adalah karya sastra kuno paling komprehensif yang dimiliki masyarakat Sasak. Naskah ini mengisahkan tentang asal-muasal Suku Sasak sejak zaman para nabi hingga masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan di Lombok. Naskah yang bertarikh sekitar 1301 Hijriah (1883 Masehi) ini ditulis dalam huruf Jejawan dan berbahasa Kawi, dan menjadi rujukan utama dalam kajian sejarah Pulau Lombok.

Babad Lombok memiliki cakupan yang sangat luas. Pada bagian awal, naskah ini menuturkan asal-usul manusia Sasak dalam konteks kosmologi Islam, menghubungkan leluhur Sasak dengan silsilah para nabi. Selanjutnya dikisahkan bahwa cikal bakal masyarakat Sasak bermula di wilayah Bayan, di bagian utara Lombok, kemudian menyebar ke seluruh penjuru pulau hingga abad ke-7.

Naskah ini juga memuat kisah tentang Kerajaan Pamatan, sebuah kerajaan klasik dengan peradaban tinggi yang dipimpin Raja Manca Mantri, yang akhirnya hancur akibat letusan gunung purba (yang kemudian dikenal sebagai letusan Samalas pada abad ke-13). Peristiwa bencana ini terekam secara menakjubkan dalam pupuh-pupuh Babad Lombok, termasuk syair yang menggambarkan gempa dahsyat selama tujuh hari yang mengguncang bumi Lombok.

Bagian penting lainnya mengisahkan masuknya Islam ke Lombok melalui Sunan Prapen (putra Sunan Ratu Giri), dinamika kerajaan-kerajaan Sasak seperti Kerajaan Selaparang dan Pejanggik, serta perlawanan rakyat Sasak terhadap dominasi Bali. Babad ini juga mencatat peristiwa jatuhnya Kerajaan Selaparang ke tangan penguasa Bali Karangasem.

Nilai Historis: Babad Lombok diakui sebagai sumber utama untuk memahami sejarah Lombok secara menyeluruh, dari era pra-Islam hingga masa kolonial.

2. Babad Selaparang

Babad Selaparang adalah naskah kuno yang secara khusus mengisahkan sejarah dan kejayaan Kerajaan Selaparang, kerajaan Islam tertua dan paling berpengaruh di Pulau Lombok. Naskah ini menjadi rekam jejak penting tentang dinamika politik, perang, dan runtuhnya sebuah kerajaan besar Suku Sasak.

Babad Selaparang mengisahkan masa pemerintahan Raja Selaparang, Prabu Kertabumi, dan seorang patihnya bernama Arya Sudarsana (Banjar Getas) yang menjadi tokoh sentral dalam intrik politik istana. Naskah ini menuturkan bagaimana kecemburuan raja terhadap Banjar Getas menjadi awal malapetaka yang berujung pada perpecahan di antara kerajaan-kerajaan Sasak.

Naskah ini juga mengisahkan persekongkolan antara Banjar Getas dengan I Gusti Bagus Alit dari Bali untuk meruntuhkan Kerajaan Selaparang. Di tengah konflik tersebut, dikisahkan pula sisi yang luar biasa: pasukan kijang — yang sebenarnya adalah sembilan wanita sakti kiriman dari Bayan — yang membantu perlawanan Selaparang melawan tentara Bali. Meski rakyat Selaparang berjuang mati-matian, takdir menetapkan kerajaan ini harus menyerah kepada penguasa Karangasem.

Selain kisah konflik, Babad Selaparang juga memuat cerita tentang hubungan diplomatik antar-kerajaan Sasak, perkawinan politik antara Datu Pejanggik dengan putri-putri demung dari berbagai wilayah seperti Bayan, Banua, dan Kentawang, serta sistem pemerintahan tradisional yang berlaku pada masanya.

Nilai Historis: Babad Selaparang adalah bukti literasi tinggi masyarakat Sasak dalam mendokumentasikan sejarah politik kerajaan mereka secara detail dan dramatis.

3. Babad Praya

Babad Praya merupakan naskah kuno yang mengisahkan sejarah wilayah Praya dan sekitarnya di Lombok Tengah. Babad ini sangat penting karena merekam perlawanan sengit masyarakat Sasak di wilayah selatan dan tengah Lombok terhadap dominasi kekuasaan Bali, serta memuat kisah tentang terbentuknya identitas komunitas Sasak yang tangguh dan berdaulat.

Babad Praya mengisahkan perjalanan para tokoh pejuang dan pemimpin lokal dari wilayah Praya yang berjuang mempertahankan kedaulatan tanah air mereka. Naskah ini memuat kisah tentang asal-usul para penguasa lokal (datu) di Lombok Tengah, sistem sosial dan adat istiadat yang mengatur kehidupan masyarakat, serta hubungan antara para penguasa lokal dengan kekuatan-kekuatan besar yang mengepung mereka.

Sebagaimana babad-babad Sasak lainnya, tema perlawanan terhadap kekuasaan Bali menjadi benang merah yang kuat dalam Babad Praya. Naskah ini juga memuat nilai-nilai etika Sasak yang dijunjung tinggi, termasuk semangat kebersamaan (gotong royong), kesetiaan kepada pemimpin yang adil, dan keteguhan dalam mempertahankan ajaran Islam sebagai identitas komunitas Sasak.

Nilai Historis: Babad Praya melengkapi gambaran sejarah Lombok yang seringkali terpusat di wilayah timur (Selaparang), dengan memberi suara kepada perjuangan masyarakat di wilayah tengah dan selatan.

4. Babad Cilinaya

Babad Cilinaya adalah naskah yang kaya akan unsur sastra dan mitologi Sasak. Berbeda dengan babad-babad yang lebih bernuansa politis dan historis, Babad Cilinaya memadukan kisah-kisah sejarah dengan elemen cerita rakyat, legenda, dan ajaran moral yang sarat makna. Naskah ini menjadi salah satu warisan sastra yang paling kaya dari khazanah kesusastraan Sasak.

Babad Cilinaya mengisahkan tokoh sentral bernama Cilinaya, seorang perempuan dengan latar belakang yang penuh misteri dan keistimewaan. Kisah dalam naskah ini mengikuti perjalanan hidup tokoh tersebut yang sarat dengan cobaan, kebijaksanaan, dan keadilan. Seperti halnya kisah-kisah epik dalam tradisi Nusantara, Babad Cilinaya mengandung lapisan makna yang dapat dibaca sebagai allegori sosial maupun sebagai panduan etika.

Dalam naskah ini juga terdapat gambaran tentang tatanan sosial masyarakat Sasak, sistem nilai yang mengatur hubungan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan, serta pandangan hidup orang Sasak tentang takdir, usaha, dan keadilan ilahi. Babad Cilinaya sering disebut bersama Cupak Gerantang sebagai warisan sastra yang memadukan unsur hiburan dengan pengajaran nilai-nilai luhur.

Nilai Historis: Babad Cilinaya memperlihatkan sisi humanis dari tradisi sastra Sasak, bahwa babad bukan hanya catatan perang dan kerajaan, tetapi juga ruang untuk mengolah pertanyaan-pertanyaan tentang kemanusiaan.

5. Babad Jatiswara

Babad Jatiswara adalah salah satu naskah kuno Sasak yang memiliki keunikan tersendiri karena memadukan kisah kepahlawanan dengan nuansa spiritual yang kuat. Naskah ini mengisahkan perjalanan tokoh Jatiswara yang penuh dengan dimensi religius, mengaitkan perjuangan fisik dengan perjuangan batin dalam tradisi Islam Sasak.

Babad Jatiswara menuturkan kisah seorang tokoh, Jatiswara, yang perjalanan hidupnya sarat dengan ujian spiritual dan fisik. Naskah ini menggambarkan dengan kaya bagaimana nilai-nilai Islam dipadukan dengan tradisi lokal Sasak dalam membentuk karakter seorang pemimpin dan pejuang yang sejati. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.

Naskah ini juga memuat kisah tentang hubungan antara manusia dengan alam, antara pemimpin dengan rakyatnya, serta antara dunia fana dengan dimensi spiritual. Babad Jatiswara kerap menjadi bahan kajian dalam studi tentang Islam Wetu Telu, kepercayaan lokal Sasak yang memadukan unsur Islam dengan tradisi animisme pra-Islam, yang hingga kini masih dijalankan oleh komunitas di Bayan, Lombok Utara.

Nilai Historis: Babad Jatiswara menjadi jembatan penting dalam memahami perpaduan antara tradisi pra-Islam dan ajaran Islam dalam membentuk identitas spiritual masyarakat Sasak.

Babad sebagai Warisan Budaya

Kelima babad di atas hanyalah sebagian kecil dari khazanah naskah kuno Sasak yang kaya. Di antara babad-babad lain yang juga dikenal adalah Babad Dewi Rengganis, Babad Dewi Sinarah Hulan, Babad Kotaragama, dan Babad Sakra. Semua naskah ini ditulis dalam Aksara Jejawan, aksara tradisional Lombok yang hingga kini masih terus dilestarikan.

Babad-babad Lombok bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas hidup masyarakat Sasak yang perlu terus dijaga, dipelajari, dan disebarluaskan kepada generasi berikutnya. Dengan memahami isi babad-babad ini, kita tidak hanya mengenal sejarah Lombok, tetapi juga menyelami jiwa dan semangat leluhur Suku Sasak yang telah membangun peradaban yang luar biasa di bumi Gumi Sasak.

Mari bersama-sama melestarikan warisan leluhur ini agar tidak hilang ditelan zaman.

 


Iklan / Advertisement
Bagikan:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iklan / Advertisement
Iklan