Pulau
Lombok, yang terletak di antara Pulau Bali dan Pulau Sumbawa, menyimpan
kekayaan sastra dan sejarah yang luar biasa. Salah satu warisan paling berharga
dari peradaban Suku Sasak adalah babad, naskah-naskah kuno yang ditulis
menggunakan Aksara Jejawan (Sasak) dan berbahasa Kawi, yang memuat kisah
asal-usul, silsilah raja-raja, perjuangan rakyat, serta nilai-nilai luhur
kebudayaan Sasak.
Babad-babad
ini tidak sekadar karya sastra biasa. Ia adalah memori kolektif
masyarakat Sasak yang terekam di atas daun lontar, menjadi jendela untuk
memahami sejarah kerajaan-kerajaan besar di Lombok, dinamika sosial-politik
masa lalu, hingga sistem kepercayaan dan etika hidup orang Sasak. Berikut
adalah lima babad yang paling terkenal dan paling sering dikaji oleh para
peneliti maupun pemerhati budaya.
1. Babad Lombok
Babad Lombok
adalah karya sastra kuno paling komprehensif yang dimiliki masyarakat Sasak.
Naskah ini mengisahkan tentang asal-muasal Suku Sasak sejak zaman para nabi
hingga masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan di Lombok. Naskah yang
bertarikh sekitar 1301 Hijriah (1883 Masehi) ini ditulis dalam huruf Jejawan
dan berbahasa Kawi, dan menjadi rujukan utama dalam kajian sejarah Pulau
Lombok.
Babad Lombok
memiliki cakupan yang sangat luas. Pada bagian awal, naskah ini menuturkan
asal-usul manusia Sasak dalam konteks kosmologi Islam, menghubungkan leluhur
Sasak dengan silsilah para nabi. Selanjutnya dikisahkan bahwa cikal bakal
masyarakat Sasak bermula di wilayah Bayan, di bagian utara Lombok, kemudian
menyebar ke seluruh penjuru pulau hingga abad ke-7.
Naskah ini
juga memuat kisah tentang Kerajaan Pamatan, sebuah kerajaan klasik dengan
peradaban tinggi yang dipimpin Raja Manca Mantri, yang akhirnya hancur akibat
letusan gunung purba (yang kemudian dikenal sebagai letusan Samalas pada abad
ke-13). Peristiwa bencana ini terekam secara menakjubkan dalam pupuh-pupuh
Babad Lombok, termasuk syair yang menggambarkan gempa dahsyat selama tujuh hari
yang mengguncang bumi Lombok.
Bagian
penting lainnya mengisahkan masuknya Islam ke Lombok melalui Sunan Prapen
(putra Sunan Ratu Giri), dinamika kerajaan-kerajaan Sasak seperti Kerajaan
Selaparang dan Pejanggik, serta perlawanan rakyat Sasak terhadap dominasi Bali.
Babad ini juga mencatat peristiwa jatuhnya Kerajaan Selaparang ke tangan
penguasa Bali Karangasem.
Nilai
Historis: Babad Lombok diakui sebagai
sumber utama untuk memahami sejarah Lombok secara menyeluruh, dari era
pra-Islam hingga masa kolonial.
2. Babad Selaparang
Babad
Selaparang adalah naskah kuno yang secara khusus mengisahkan sejarah dan
kejayaan Kerajaan Selaparang, kerajaan Islam tertua dan paling berpengaruh di
Pulau Lombok. Naskah ini menjadi rekam jejak penting tentang dinamika politik,
perang, dan runtuhnya sebuah kerajaan besar Suku Sasak.
Babad
Selaparang mengisahkan masa pemerintahan Raja Selaparang, Prabu Kertabumi, dan
seorang patihnya bernama Arya Sudarsana (Banjar Getas) yang menjadi tokoh
sentral dalam intrik politik istana. Naskah ini menuturkan bagaimana
kecemburuan raja terhadap Banjar Getas menjadi awal malapetaka yang berujung
pada perpecahan di antara kerajaan-kerajaan Sasak.
Naskah ini
juga mengisahkan persekongkolan antara Banjar Getas dengan I Gusti Bagus Alit
dari Bali untuk meruntuhkan Kerajaan Selaparang. Di tengah konflik tersebut,
dikisahkan pula sisi yang luar biasa: pasukan kijang — yang sebenarnya adalah
sembilan wanita sakti kiriman dari Bayan — yang membantu perlawanan Selaparang
melawan tentara Bali. Meski rakyat Selaparang berjuang mati-matian, takdir
menetapkan kerajaan ini harus menyerah kepada penguasa Karangasem.
Selain kisah
konflik, Babad Selaparang juga memuat cerita tentang hubungan diplomatik
antar-kerajaan Sasak, perkawinan politik antara Datu Pejanggik dengan
putri-putri demung dari berbagai wilayah seperti Bayan, Banua, dan Kentawang,
serta sistem pemerintahan tradisional yang berlaku pada masanya.
Nilai
Historis: Babad Selaparang adalah
bukti literasi tinggi masyarakat Sasak dalam mendokumentasikan sejarah politik
kerajaan mereka secara detail dan dramatis.
3. Babad Praya
Babad Praya
merupakan naskah kuno yang mengisahkan sejarah wilayah Praya dan sekitarnya di
Lombok Tengah. Babad ini sangat penting karena merekam perlawanan sengit
masyarakat Sasak di wilayah selatan dan tengah Lombok terhadap dominasi
kekuasaan Bali, serta memuat kisah tentang terbentuknya identitas komunitas
Sasak yang tangguh dan berdaulat.
Babad Praya
mengisahkan perjalanan para tokoh pejuang dan pemimpin lokal dari wilayah Praya
yang berjuang mempertahankan kedaulatan tanah air mereka. Naskah ini memuat
kisah tentang asal-usul para penguasa lokal (datu) di Lombok Tengah, sistem
sosial dan adat istiadat yang mengatur kehidupan masyarakat, serta hubungan
antara para penguasa lokal dengan kekuatan-kekuatan besar yang mengepung
mereka.
Sebagaimana
babad-babad Sasak lainnya, tema perlawanan terhadap kekuasaan Bali menjadi
benang merah yang kuat dalam Babad Praya. Naskah ini juga memuat nilai-nilai
etika Sasak yang dijunjung tinggi, termasuk semangat kebersamaan (gotong
royong), kesetiaan kepada pemimpin yang adil, dan keteguhan dalam
mempertahankan ajaran Islam sebagai identitas komunitas Sasak.
Nilai
Historis: Babad Praya melengkapi
gambaran sejarah Lombok yang seringkali terpusat di wilayah timur (Selaparang),
dengan memberi suara kepada perjuangan masyarakat di wilayah tengah dan
selatan.
4. Babad Cilinaya
Babad
Cilinaya adalah naskah yang kaya akan unsur sastra dan mitologi Sasak. Berbeda
dengan babad-babad yang lebih bernuansa politis dan historis, Babad Cilinaya
memadukan kisah-kisah sejarah dengan elemen cerita rakyat, legenda, dan ajaran
moral yang sarat makna. Naskah ini menjadi salah satu warisan sastra yang
paling kaya dari khazanah kesusastraan Sasak.
Babad
Cilinaya mengisahkan tokoh sentral bernama Cilinaya, seorang perempuan dengan
latar belakang yang penuh misteri dan keistimewaan. Kisah dalam naskah ini
mengikuti perjalanan hidup tokoh tersebut yang sarat dengan cobaan,
kebijaksanaan, dan keadilan. Seperti halnya kisah-kisah epik dalam tradisi
Nusantara, Babad Cilinaya mengandung lapisan makna yang dapat dibaca sebagai
allegori sosial maupun sebagai panduan etika.
Dalam naskah
ini juga terdapat gambaran tentang tatanan sosial masyarakat Sasak, sistem
nilai yang mengatur hubungan antara rakyat biasa dan kaum bangsawan, serta
pandangan hidup orang Sasak tentang takdir, usaha, dan keadilan ilahi. Babad
Cilinaya sering disebut bersama Cupak Gerantang sebagai warisan sastra yang
memadukan unsur hiburan dengan pengajaran nilai-nilai luhur.
Nilai
Historis: Babad Cilinaya
memperlihatkan sisi humanis dari tradisi sastra Sasak, bahwa babad bukan hanya
catatan perang dan kerajaan, tetapi juga ruang untuk mengolah
pertanyaan-pertanyaan tentang kemanusiaan.
5. Babad Jatiswara
Babad
Jatiswara adalah salah satu naskah kuno Sasak yang memiliki keunikan tersendiri
karena memadukan kisah kepahlawanan dengan nuansa spiritual yang kuat. Naskah
ini mengisahkan perjalanan tokoh Jatiswara yang penuh dengan dimensi religius,
mengaitkan perjuangan fisik dengan perjuangan batin dalam tradisi Islam Sasak.
Babad
Jatiswara menuturkan kisah seorang tokoh, Jatiswara, yang perjalanan hidupnya
sarat dengan ujian spiritual dan fisik. Naskah ini menggambarkan dengan kaya
bagaimana nilai-nilai Islam dipadukan dengan tradisi lokal Sasak dalam
membentuk karakter seorang pemimpin dan pejuang yang sejati. Di dalamnya
terdapat ajaran-ajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan iman.
Naskah ini
juga memuat kisah tentang hubungan antara manusia dengan alam, antara pemimpin
dengan rakyatnya, serta antara dunia fana dengan dimensi spiritual. Babad
Jatiswara kerap menjadi bahan kajian dalam studi tentang Islam Wetu Telu, kepercayaan
lokal Sasak yang memadukan unsur Islam dengan tradisi animisme pra-Islam, yang
hingga kini masih dijalankan oleh komunitas di Bayan, Lombok Utara.
Nilai
Historis: Babad Jatiswara menjadi
jembatan penting dalam memahami perpaduan antara tradisi pra-Islam dan ajaran
Islam dalam membentuk identitas spiritual masyarakat Sasak.
Babad sebagai Warisan Budaya
Kelima babad
di atas hanyalah sebagian kecil dari khazanah naskah kuno Sasak yang kaya. Di
antara babad-babad lain yang juga dikenal adalah Babad Dewi Rengganis, Babad
Dewi Sinarah Hulan, Babad Kotaragama, dan Babad Sakra. Semua naskah ini ditulis
dalam Aksara Jejawan, aksara tradisional Lombok yang hingga kini masih terus
dilestarikan.
Babad-babad
Lombok bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas hidup
masyarakat Sasak yang perlu terus dijaga, dipelajari, dan disebarluaskan kepada
generasi berikutnya. Dengan memahami isi babad-babad ini, kita tidak hanya
mengenal sejarah Lombok, tetapi juga menyelami jiwa dan semangat leluhur Suku
Sasak yang telah membangun peradaban yang luar biasa di bumi Gumi Sasak.
Mari bersama-sama melestarikan warisan leluhur ini agar
tidak hilang ditelan zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar